Bab 1: Rekonstruksi Neraka
|Hari Dimana Bumi Berhenti Bernapas|
Jowarta hancur dalam sekejap. Riuga Kasena baru saja diusir Aira, perempuan yang dulu ia puja. "Pergi saja, Riuga! Kau terlalu taat, terlalu lemah buatku!" jerit Aira sambil mendorongnya keluar pintu. Riuga berdiri di gang sempit, amarah membara di dadanya. Ia ingin balik dan ambil apa yang jadi haknya sebagai laki-laki—tubuh Aira yang selalu ia idamkan.
°°°
Tapi tiba-tiba langit pecah. Benda raksasa dari luar angkasa menghantam bumi. Cahaya ungu menyilaukan, gelombang tekanan menghancurkan segalanya. Riuga tak sempat bergerak. Tubuhnya hancur jadi debu, tapi ingatan terakhirnya: Aira yang telanjang di ranjang, mengerang saat ia dorong masuk, tapi selalu menolak komitmen. "Kau cuma alat bagiku," katanya dingin setelah selesai.
Kiamat datang tanpa ampun. Manusia menguap jadi partikel, termasuk Riuga yang muak jadi budak Aira.
°°°
|Ratusan Tahun dalam Cairan Purba|
Debu Riuga terperangkap di kawah meteor. Cairan kimia asing merebusnya berabad-abad. Tubuhnya dirakit ulang, dicampur DNA belalang sembah purba yang bermutasi. Gagal berkali-kali—hancur, meleleh, di bentuk lagi. Akhirnya stabil: manusia dengan insting predator.
Di dalam cairan itu, Riuga mimpi buruk. Ia lihat Aira lagi, kali ini ia yang berkuasa. Dalam mimpi, ia pegang leher Aira, dorong dia ke dinding. "Kau milikku sekarang," desis Riuga. Aira mengerang saat ia robek bajunya, tangan kasar meremas dua melonnya yang basah keringat. Ia masukkan jarinya ke dalam bagian bawah, merasakan kehangatan yang licin, membuat Aira menggelinjang tapi tak bisa lari.
Riuga bangun dari mimpi itu dengan nafas berat. Insting barunya haus—bukan cuma darah, tapi juga tubuh perempuan yang bisa ia miliki sebagai pejantan puncak.
°°°
|Kebangkitan Sang Mantis|
Riuga merangkak keluar kawah, telanjang bulat. Tubuhnya lebih kuat, otot bidang dengan kulit keras. Matanya majemuk, bisa lihat ke segala arah. Punggungnya berdenyut—sayap transparan terlipat di balik otot. Lengan berisi bilah tulang siap keluar.
Ia pegang lengannya sendiri, merasakan denyut yang lebih ganas. Insting mantisnya membara: kawin dan bunuh. Riuga lihat bayangan di danau—wajah tirus, antena di dahi bergetar. "Aku bukan lagi budak," gumamnya. Ia ingat Aira, ingin mencarinya dan ambil paksa apa yang dulu ia beri sukarela.
Sret! Bilah keluar dari lengan. Riuga tebas ilalang di sekitar, darah hewan kecil muncrat. Ia haus peperangan, haus berkuasa.
°°°
|Kesadaran dan Rasa Malu yang Hilang|
Rimba yang baru lahir itu ber-bau busuk darah dan tanah basah.
Riuga berdiri di pinggir kawah yang masih mengepul uap panas. Tubuhnya telanjang kecuali lilitan ilalang kasar di pinggang. Antena di dahinya bergetar pelan, menangkap getaran langkah kaki berat dari kejauhan. Bukan satu. Bukan dua. Tapi lima.
Mereka Serigala Merah, datang dengan tawa kasar, suara cakar menggaruk batu. Pemimpinnya—mutan raksasa dengan bulu abu-abu kotor dan bekas luka melintang di mata kiri—berhenti di depan Riuga. Matanya menyipit, menilai.
"Hanya seekor belalang sembah?" suaranya serak, penuh ejekan. "Lihat badannya kurus kering. Pasti enak direbus jadi sup."
Empat anak buahnya ikut tertawa. Salah satunya, betina berbulu cokelat dengan dua melon penuh dan taring panjang, maju mendekat. Ia mengendus udara di sekitar Riuga, hidungnya hampir menyentuh lehernya.
"Bau darah segar... tapi juga bau laki-laki yang belum kawin," katanya sambil menjilat bibir. "Mungkin sebelum kita bunuh, aku coba dulu rasanya. Biar tahu apakah serangga ini bisa bikin puas."
Riuga diam. Matanya tetap redup. Tapi di dalam, sesuatu bergerak. Ingatan lama muncul lagi—Aira yang pernah bilang hal serupa. "Kau terlalu lembut, Riuga. Aku butuh yang kasar." Lalu ia pergi dengan laki-laki lain yang lebih ganas.
"Cukup." Riuga menghela napas pelan. "Kalian semua... sama saja."
Si pemimpin tertawa lebih keras. "Apa katanya? Sok bicara begitu!"
Ia menerjang. Cakar besar meluncur ke arah leher Riuga.
SRAK!
Kulit punggung Riuga terbelah. Sepasang sayap transparan lebar mekar keluar dari celah otot belikat. Satu kepakan kuat—angin menderu—membuat tubuh Riuga melesat ke atas, meninggalkan debu dan daun kering beterbangan.
"Apa-apaan itu?!" teriak salah satu serigala.
Riuga sudah di udara. Matanya yang majemuk menangkap setiap gerakan di bawah. Ia melihat betina tadi masih menjilat bibir, mata penuh nafsu. Ia melihat pemimpin yang sekarang terlihat ragu. Ia melihat yang lain mulai mundur selangkah.
"Bagus" Ketakutan sudah mulai merayap. Riuga menukik tajam seperti anak panah hidup.
Sring!
Dua bilah tulang hitam bergerigi keluar dari bawah kulit lengannya. Panjang, melengkung, ujungnya bergetar seperti siap memotong apa saja.
Jleb!... Crat!
Tebasan pertama tepat di leher anak buah paling dekat. Kepala terpisah bersih, darah muncrat membasahi tanah seperti hujan merah. Tubuhnya ambruk sebelum sempat berteriak.
Riuga mendarat ringan di belakang mereka. Sayapnya bergetar sekali, lalu terserap kembali ke dalam celah punggung. Kulit menutup rapat tanpa bekas luka.
"Tadi kalian bilang apa?" suara Riuga datar, dingin. "Ingin direbus? Ingin dicoba dulu?"
Si betina mundur, tapi matanya masih liar. "Kau... kau bukan manusia mutasi biasa."
Riuga melangkah maju. Bilah di tangan kanannya menetes darah. "Tentu saja aku bukan... Dan kalian... cuma mangsa."
Pemimpin serigala menggeram, mencoba menutupi rasa takut. "Serangga jelek! Kau cuma beruntung!"
Ia menerjang lagi, kali ini dengan kecepatan penuh. Cakarnya mengarah ke dada Riuga.
Riuga tidak menghindar. Ia malah maju setengah langkah.
Sret!
Bilah kiri Riuga menusuk perut pemimpin itu dari bawah. Masuk dalam-dalam sampai gagangnya hampir hilang. Darah hangat mengalir deras membasahi lengan Riuga.
Pemimpin itu terbatuk darah, matanya melebar. "Ka... kau..."
Riuga tarik bilahnya perlahan, biar rasa sakitnya lebih lama. "Doamu terlambat."
Ia tarik keluar sepenuhnya. Usus mutan itu jatuh ke tanah dengan bunyi basah.
Dua serigala tersisa lari.
Riuga tidak mengejar. Ia hanya menatap betina yang masih berdiri di tempat, kakinya gemetar tapi matanya penuh campuran takut dan... hasrat.
"Kau masih mau coba?" tanya Riuga pelan, suaranya seperti bisikan maut.
Betina itu menelan ludah. Dua Melonnya naik turun cepat. "Aku... aku bisa jadi milikmu. Aku akan patuh. Aku bisa puaskan kau lebih dari siapa pun."
Riuga melangkah mendekat. Antenanya bergetar, mencium bau hormonnya yang mulai mengalir deras—bau ketakutan bercampur gairah.
Bilahnya masuk kembali. Ia pegang dagu betina itu dengan tangan berlumur darah. Angkat wajahnya paksa.
"Kau pikir aku butuh budak?" desis Riuga. "Aku butuh mangsa yang tahu tempatnya."
Tangannya turun, merobek kain kulit yang menutupi dada betina itu. Dua Melon-nya terbebas, pitingnya sudah mengeras karena adrenalin dan ketakutan.
Riuga meremas kasar. Betina itu mengerang, campuran sakit dan nikmat.
"Tapi aku bukan Aira," gumam Riuga dalam hati. "Aku tidak akan melempar setelah puas."
Ia dorong betina itu ke pohon besar di belakang. Punggungnya membentur keras. Riuga tekan tubuhnya ke depan, lututnya memaksa paha betina terbuka.
"Kalau kau mau hidup... buktikan kau layak."
Betina itu gemetar hebat. Tangan Riuga turun lebih rendah, merobek sisa kain di selangkangannya. Jari-jarinya langsung masuk ke dalam—basah, panas, dan ketat.
Ia mengerang keras, kepalanya terdongak. "Ya... ambil aku... jadikan aku milikmu..."
Riuga tidak bicara lagi.
Lalu ia pegang pinggul betina itu dengan kedua tangan, angkat tubuhnya sampai kakinya melingkar di pinggang Riuga.
Dengan satu dorongan kuat, ia masuk sepenuhnya.
Betina itu menjerit—bukan sakit, tapi pelepasan total. Tubuhnya menggelinjang, dinding dalamnya memeluk Riuga erat-erat, basah dan berdenyut.
Riuga bergerak kasar, cepat, tanpa ampun. Setiap tusukan membuat pohon di belakang bergoyang. Darah dari tangannya menodai Melon-Melon dan perut betina itu.
Ia bukan lagi ksatria taat yang memohon kasih sayang.
Ia predator puncak yang mengklaim apa yang ia inginkan.
Betina itu orgasme dua kali sebelum Riuga selesai. Saat akhirnya ia tarik keluar, cairan putih bercampur darah menetes ke tanah.
Ia lepaskan betina itu. Tubuhnya ambruk lemas, napas tersengal, tapi matanya penuh kepuasan dan ketakutan.
Riuga berdiri tegak, menatap dua mayat serigala yang tersisa dan betina yang sekarang berlutut di depannya.
"Ambil kulit pemimpinmu," perintah Riuga dingin. "Buatkan aku jubah. Yang bagus. Kalau tidak... kau tahu apa yang terjadi."
Betina itu mengangguk cepat, tangannya gemetar menguliti tubuh pemimpinnya.
Riuga menatap langit yang mulai gelap.
"Aku muak jadi orang baik."
"Aku muak jadi yang selalu mengalah."
"Sekarang... dunia ini milikku."
"Dan siapa pun yang menghalangi—termasuk Aira, mungkin, jika dia masih hidup saat ini—akan aku hancurkan. Satu per satu."
°°°
©Novellaris2026
Komentar
Posting Komentar
Ulasan bab