Chapter 1. KOTA YANG TAK RAMAH

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

Supardi berdiri di depan gedung itu lebih lama dari yang seharusnya.
Kaca-kacanya memantulkan langit kelabu ibu kota, menjulang dingin seperti tak pernah berniat menyambut siapa pun. Orang-orang berlalu-lalang dengan langkah cepat, rapi, dan penuh tujuan, sementara Supardi berdiri sendiri, menggenggam map cokelat yang sudutnya sudah mulai terkelupas.
Bukan rasa takut yang membuatnya ragu.
Melainkan perasaan aneh… seperti ada sesuatu yang salah.
Matanya menyapu bangunan itu pelan. Bukan sekadar melihat, tapi membaca. Garis, sudut, bayangan. Ada retakan kecil di sudut lantai lobi yang ditutupi karpet mahal. Ada susunan kolom yang dipaksakan. Ada keseimbangan yang dipelintir demi estetika.

“Kalau ini diteruskan, bangunan ini bakal bermasalah.” gumam Supardi lirih.

Supardi lalu menggeleng pelan, menertawakan dirinya sendiri. Siapa dia sampai berani menilai karya perusahaan konstruksi besar? Dia hanya pemuda desa dengan ijazah SLTA, tanpa kenalan, tanpa alamat tujuan selain kata nekat.
Pintu berputar terbuka. Supardi melangkah masuk.
Beberapa menit kemudian, kalimat itu menghantamnya seperti tamparan.

“Kamu datang ke sini untuk melamar kerja?”

Nada itu tajam. Dingin. Merendahkan.
Supardi mendongak. Seorang perempuan berdiri di hadapannya dengan anggun, aura mahal, dan terlalu sempurna untuk berdiri di ruangan ini. Tatapannya menyapu Supardi dari kepala hingga kaki, lalu berhenti dengan senyum tipis yang lebih mirip ejekan.

“Saya Nayala. Dan saya adalah pemilik setengah gedung ini.” kata perempuan itu singkat.

“Saya Supardi. Saya… mau melamar sebagai asisten arsitek.” jawab Supardi terbata dan menekan ludah.

Tawa kecil terdengar. Bukan lucu, melainkan menghina.

“Dengan ijazah itu?” Nayala menunjuk map cokelat di tangan Supardi. 

“Atau kamu salah alamat? Lowongan pengaduk semen bukan di sini.” lanjutnya sarkas.

Kalimat-kalimat berikutnya tak lagi dia dengar dengan jelas. Yang Supardi rasakan hanya senyum pahit yang terpaksa dia tahan, dan sesuatu di dalam dadanya yang perlahan retak.
Supardi pergi tanpa membantah.
Tanpa marah.
Tanpa tahu, bahwa hari itu adalah hari terakhir dia menjadi Supardi yang tak dianggap siapa-siapa.
Karena kota ini belum selesai dengannya.
Dan takdir… baru saja mulai memperhatikannya.

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

Supardi berjalan tanpa tujuan.
Map cokelat itu kini terlipat di bawah lengannya, entah sejak kapan. Langkahnya menyusuri trotoar yang mulai dipenuhi bayangan senja, sementara lampu-lampu kota menyala satu per satu dan terasa dingin menyapa langkahnya, tapi dia tidak peduli.
Supardi melewati deretan gedung tinggi, kafe dengan kaca bening, dan orang-orang yang tertawa di balik meja. Dunia itu terasa jauh, seperti panggung yang tak pernah menyediakan peran untuknya.
Perutnya melilit karena sejak pagi dia bahkan belum makan apa pun. Tapi rasa lapar kalah oleh perasaan yang lebih berat, yaitu rasa tidak diinginkan.
Supardi berhenti di depan halte. Duduk. Menunduk.
Sepatu tuanya berdebu. Celananya kusut.
Dia teringat lagi tatapan Nayala. Bukan marah… tapi jijik.

“Apa aku memang kelihatan sekotor itu?” gumamnya lirih.

Supardi bangkit lagi. Berjalan. Terus berjalan.
Langit berubah jingga. Angin membawa bau aspal panas bercampur semen basah. Dari kejauhan terdengar suara mesin berat, dentuman besi, teriakan mandor, dan suara adukan yang dipukul sekop.
Langkah Supardi melambat.
Di hadapannya, sebuah proyek pembangunan berdiri setengah jadi. Gedung besar dengan rangka baja terbuka, menjulang kasar dan tak ramah. Para pekerja tampak sibuk, tubuh mereka kotor oleh debu dan keringat.
Entah kenapa, Supardi menatap bangunan itu lebih lama.
Ada sesuatu yang mengganjal.
Bukan ketakutan.
Melainkan… panggilan yang tak bisa dijelaskan.
Matanya menyusuri struktur baja, susunan tiang, dan fondasi yang baru dicor. Dia mengerutkan kening. Ada bagian yang terasa janggal, seperti beban yang dipaksa ditopang lebih dari seharusnya.
Belum sempat dia memikirkan lebih jauh, suara kasar menyadarkannya.

“Hei! Kamu! Lagi nyari kerja, ya?”

Supardi menoleh. Seorang mandor menatapnya sambil mengelap keringat.

“Kalau mau, bantu aduk semen. Kami lagi kurang orang.” lanjut mandor itu.

Supardi mengangguk pelan.
Tak banyak bicara.
Tak banyak berharap.
Dia melangkah masuk ke proyek itu, tanpa tahu bahwa tempat inilah yang akan merenggut hidup lamanya…
dan membukakan pintu menuju sesuatu yang jauh lebih gelap.

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

©Novellaris2026 

Komentar

  1. Cerita tentang realita kehidupan di kota besar. Sangat bagus, sayangnya belum ada peminat yang baca..

    BalasHapus

Posting Komentar

Ulasan bab