Chapter 2. LADEN DI ATAS TANAH YANG SALAH

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

Begitu Supardi melangkah masuk ke area proyek, hawa panas langsung menyergap. Bau semen basah bercampur besi berkarat menusuk hidung. Suara mesin meraung, tapi entah kenapa… terdengar tidak utuh. Seperti ada jeda-jeda sunyi di antara bisingnya.

Supardi mengambil sekop. Tangannya mulai bekerja, tubuhnya mengikuti irama kasar para buruh lain.

Namun matanya… tidak bisa diam.

Dia terus memperhatikan sesuatu yang membuat dadanya mengencang.

Beberapa tiang baja tampak sedikit melengkung, nyaris tak terlihat oleh mata biasa. Susunan penyangga di sisi barat terlihat terlalu rapat, seolah menahan beban yang tidak seharusnya ada.

“Bang,” panggil Supardi pelan pada buruh di sebelahnya. 

“yang ini… apa memang pasangnya harus begini?” tanya Supardi.

“Jangan banyak tanya. Kerja aja.” jawab Buruh itu menoleh sekilas, lalu menggeleng cepat.

Supardi terdiam.

Tak jauh dari sana, seorang pekerja tua duduk sambil menghisap rokok. Matanya menatap bangunan itu lama, terlalu lama. Saat Supardi melewatinya, lelaki itu berbisik tanpa menoleh.

“Gedung ini… sebenernya nggak suka dibangun.”

Supardi berhenti.

“Apa, Pak?” tanya Supardi bingung.

Pekerja tua itu menggeleng, mematikan rokoknya dengan ujung sepatu. 

“Nggak apa-apa. Anggap aja orang tua kebanyakan ngomkng ngelantur.”

Tak lama kemudian, teriakan terdengar. Seorang pekerja terpeleset, kakinya terkilir saat menginjak bagian lantai yang masih kokoh… tapi tiba-tiba retak begitu saja.

“Aneh. Padahal sangat jelas ini baru dicor.” gumam mandor merasa heran.

Supardi menatap retakan itu.

Bukan retakan biasa.

Supardi bisa melihatnya dengan jelas, seperti ada bekas tekanan dari bawah.

Seolah sesuatu pernah mencoba… keluar.

Angin tiba-tiba berembus kencang. Rangka baja di atas berderit pelan, seperti rintihan yang ditahan. Supardi merasakan tengkuknya dingin.

Untuk sesaat, dia merasa bangunan itu sedang menatapnya balik.

Malam turun perlahan. Lampu proyek menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang yang aneh di dinding setengah jadi. Supardi menghela nafas, untuk sekedar menepis perasaan yang mendadak tak nyaman itu.

Dia hanya buruh harian.

Dan dia tidak ingin berpikir terlalu jauh.

Supardi tidak tahu… bahwa tempat ini telah lebih dulu mengenalnya.

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

Hari pertama Supardi bekerja dimulai sebelum matahari benar-benar naik.

Dia bangun paling pagi, dan berdiri kikuk di antara para pekerja yang sudah saling mengenal. Tangannya kaku saat menerima sekop, tubuhnya belum terbiasa dengan ritme kasar proyek. Mandor hanya melirik sekilas, lalu menunjuk ke arah tumpukan pasir dan semen.

“Ngaduk. Jangan lambat.”

Tak ada perkenalan.

Tak ada basa-basi.

Di tempat ini, yang dihargai hanya tenaga.

Supardi mengangguk dan mulai bekerja.

Sekop pertama terasa berat. Sekop kedua lebih berat. Punggungnya langsung panas, lengannya bergetar. Campuran semen itu lengket, seperti menolak untuk diaduk. Setiap kali dia menarik sekop, ada rasa aneh, seolah adukan itu menahan balik.

“Baru ya? Nanti jug akan terbiasa.” salah satu buruh menyeringai.

Supardi hanya tersenyum tipis.

Hari berjalan lambat. Matahari naik tinggi, panas memantul dari beton dan baja. Keringat mengalir membasahi pelipis, bajunya lengket. Tapi di sela kelelahan itu, mata Supardi terus bekerja.

Dia melihat cara para tukang memasang rangka. Melihat jarak antar penyangga. Melihat sudut-sudut yang terlalu dipaksa lurus. Beberapa kali keningnya berkerut, nalurinya menolak apa yang ada di depannya.

“Kalau beban naik, yang ini bakal minta korban,” gumam Supardi tanpa sadar.

Tapi dia segera diam.

Ini bukan tempat untuk dirinya bersuara.

Hari kedua dan ketiga berlalu dengan pola yang sama. Ngaduk semen. Angkat ember. Dorong gerobak. Tubuhnya pegal, telapak tangannya melepuh. Tapi Supardi tidak mengeluh. Karena dia terbiasa bekerja keras sejak kecil.

Yang tidak terbiasa… adalah perasaannya.

Setiap kali dia berada dekat gedung itu, dadanya terasa sempit. Seperti berdiri terlalu lama di ruangan pengap. Kadang dia merasa sedang diawasi. Kadang dia mencium bau tanah basah yang tidak wajar, padahal cuaca panas dan kering.

Di hari kelima, Supardi mulai memperhatikan satu hal aneh.

Beberapa pekerja sering sakit mendadak.

Bukan kecelakaan besar, hanya pusing, muntah, atau jatuh tanpa sebab.

“Masuk angin,” kata mandor singkat.

Tapi Supardi tahu… itu bukan sekadar masuk angin.

Saat istirahat siang, dia duduk di pinggir proyek sambil meneguk air. Di sebelahnya, buruh tua yang kemarin berbisik itu kembali muncul. Lelaki itu mengunyah nasi dengan lambat, matanya kosong.

“Kamu kuat di sini,” katanya tiba-tiba.

“Maksudnya, Pak?” tanya Supardi menoleh.

Buruh itu tersenyum tipis, senyum orang yang sudah terlalu lama melihat hal-hal yang tak ingin diingat. 

“Tanahnya berat.”

Supardi ingin bertanya lebih jauh, tapi peluit istirahat berakhir memotong percakapan mereka.

Hari-hari berikutnya, Supardi mulai bermimpi.

Bukan mimpi buruk.

Justru terlalu tenang.

Dia bermimpi berdiri di dalam gedung yang sudah selesai, tapi tanpa manusia. Lantainya bersih, dindingnya utuh, namun udara terasa dingin. Di setiap sudut, ada bayangan gelap yang tak bergerak… hanya menunggu.

Saat terbangun, tengkuknya selalu basah oleh keringat.

Hari kelima belas datang lebih cepat dari yang dia kira.

Tubuh Supardi sudah letih sejak pagi. Semalaman dia tak tidur nyenyak. Tangannya terasa berat, langkahnya sedikit goyah. Mandor tetap menyuruhnya bekerja di area atas, dekat rangka baja ringan yang baru dipasang.

“Cepat. Sebelum hujan.”

Supardi mengangguk.

Dia mengaduk semen sambil berdiri di bawah rangka. Sekali lagi, perasaan itu datang. Lebih kuat dari biasanya. Dadanya sesak, kepalanya berdenyut.

Supardi menengadah.

Rangka baja itu…

bergetar.

Bukan karena angin.

Getarannya pelan, teratur, seperti napas.

“Bang! Yang itu.. ” Supardi berseru pada tukang di atas.

Belum sempat kalimatnya selesai, suara krek terdengar.

Satu penyangga melengkung.

Lalu patah.

Dunia seperti melambat. Supardi hanya sempat melangkah setengah sebelum rangka baja itu runtuh ke bawah.

Hantaman keras.

Gelap.

Dalam kesadarannya yang memudar, Supardi merasa tidak jatuh ke tanah…

melainkan ditarik ke dalam sesuatu yang jauh lebih dalam.

Dan di sana,

seseorang sudah menunggunya.

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


©Novellaris2026 

Komentar