Chapter 3. ANTARA SUARA SIRINE DAN NAMA SENDIRI

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

Suara pertama yang Supardi dengar bukan teriakan.

Melainkan dengungan panjang, jauh, seperti berasal dari dasar laut. Perlahan suara itu naik ke permukaan, berubah menjadi jeritan sirine yang menusuk telinga.

Tubuhnya terasa ringan.

Lalu berat.

Lalu tidak terasa sama sekali.

“Masih hidup! Angkat pelan-pelan!”

Suara lain menyusul terburu-buru, panik, tumpang tindih. Supardi ingin membuka mata, tapi kelopak matanya terlalu berat. Dadanya sesak, napasnya pendek-pendek, seolah ada sesuatu yang menindih dari dalam.

Seseorang menyebut namanya.

“Supardi! Dengerin saya, ya! Jangan tidur!”

Nama itu terdengar asing di telinganya sendiri.

Ada rasa dingin di lengannya. Lalu hangat. Bau antiseptik samar bercampur dengan bau besi dan debu proyek yang masih menempel di tubuhnya.

Dia ingin bicara.

Ingin bilang bahwa rangka itu salah pasang.

Ingin bilang bahwa dia sudah mencoba memperingatkan.

Tapi dunia kembali menggelap.

Cahaya putih menyambutnya.

Terlalu terang.

Terlalu sunyi.

Supardi terbangun dengan nafas tersengal. Langit-langit di atasnya rata dan polos, berbeda jauh dari rangka baja yang terakhir dia lihat. Ada suara beep teratur di sampingnya, mengikuti denyut jantungnya sendiri.

Rumah sakit.

Tubuhnya terasa asing. Kaku. Setiap tarikan nafas membawa nyeri tumpul di dada. Tangannya terpasang selang infus, lengannya dibalut perban. Dia mencoba bergerak, tapi kepalanya langsung berdenyut hebat.

“Jangan bergerak dulu.”

Seorang perawat mendekat, wajahnya datar namun lelah. 

“Kamu baru sadar. Istirahat saja dulu.” kata perawat itu

“Sa.. saya kenapa?” dengan suara serak Supardi bertanya.

“Kamu tertimpa rangka baja. Cukup parah.”

Nada perawat itu profesional, tapi ada jeda kecil sebelum dia melanjutkan. 

“Beruntung kamu masih hidup.”

Beruntung.

Kata itu terdengar aneh.

Beberapa jam, atau mungkin hari, berlalu tanpa benar-benar dia sadari. Supardi lebih sering terjaga setengah sadar. Kadang dia mendengar suara langkah di lorong. Kadang dia mencium bau tanah basah yang tidak seharusnya ada di rumah sakit.

Di satu waktu, seorang dokter datang memeriksanya. Pria paruh baya dengan kacamata tipis dan wajah serius.

“Kamu kehilangan kesadaran cukup lama. Beberapa jam setelah kecelakaan.” kata dokter itu.

“Berapa lama saya pingsan?” tanya Supardi pelan.

Dokter itu terdiam sejenak. Seolah sedang berpikir untuk memberi jawaban yang terdengar logis.

“Secara medis… hampir dua hari.”

Supardi mengernyit. Dua hari terasa mustahil. Baginya, gelap itu hanya berlangsung satu tarikan nafas.

“Ada yang aneh?” tanya Supardi lagi.

“CT scan bersih. Tidak ada cedera otak serius. Tulang retak, memar dalam, tapi seharusnya kamu tidak.. ” Dokter menggeleng, dan kalimat itu menggantung.

“Tidak apa, Dok?”

Dokter itu menatap Supardi lama, kemudian menarik nafas panjang. 

“Seharusnya kamu bisa lebih parah dari ini.”

Malam datang.

Lampu kamar diredupkan. Suara rumah sakit berubah pelan, lebih banyak sunyi daripada bising. Supardi menatap jendela, melihat bayangan lampu kota yang kabur oleh tirai.

Di detik itulah dia merasakannya lagi.

Perasaan diawasi.

Bukan dari pintu.

Bukan dari jendela.

Melainkan dari dalam.

Supardi menutup mata, mencoba tidur. Nafasnya perlahan teratur. Kesadarannya kembali melayang, namun kali ini, dia tidak jatuh ke dalam gelap.

Dia melangkah.

Tanpa tubuh yang terasa sakit.

Tanpa suara mesin.

Tanpa bau obat.

Saat membuka mata, Supardi tahu…

Dia tidak lagi berada di rumah sakit.

Di hadapannya berdiri sebuah gubuk tua, dikelilingi kabut tipis. Dan di depan pintu gubuk itu, duduk seorang kakek renta, yang menatapnya seolah sudah lama menunggu.

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

Tiba-tiba, sebuah napas dingin menyapu lehernya. Supardi menoleh, tidak ada siapa pun di sana. Tubuhnya gemetar. Hatinya berdegup lebih cepat.

“Ini… aku… atau…?” gumam Supardi, suaranya serak.

Dia menutup mata, mencoba menenangkan diri, namun tangan kanannya secara otomatis menempel ke dada, tempat di mana rasa aneh itu muncul. Dan saat membuka mata, dunia di sekelilingnya berubah pelan, seperti kabut yang menelan semua yang dia kenal.
Bau antiseptik dan besi proyek hilang digantikan aroma tanah basah, kayu tua, dan asap pembakaran kecil yang samar. Cahaya lampu rumah sakit berubah menjadi remang-remang keemasan, tapi tetap dingin. Suara detak jantungnya terdengar keras, menggema, dan di atasnya ada bisikan tipis, berulang.

"Datanglah…"

Supardi tersentak. Dia mencoba bangun, tapi kakinya seperti terbuat dari timah. Langkah pertama terasa berat, dan setiap tarikan nafasnya seperti menarik udara yang terlalu tebal. Sekitarannya perlahan mengerucut. Dia melihat bayangan pohon hitam, rantingnya menjulur ke tanah, seperti tangan-tangan yang menunggu untuk menangkapnya.

Di depannya, muncul sebuah gubuk tua dengan struktur kayu lapuk, pintunya nyaris lepas dari engsel. Atapnya bolong di beberapa tempat, sehingga cahaya remang masuk melalui lubang, menciptakan bayangan yang menari liar di lantai.
Supardi melangkah maju. Setiap langkah menimbulkan bunyi kayu rapuh yang membuat tengkuknya berdiri. Angin yang masuk lewat jendela gubuk membawa bisikan samar. Suara itu seperti nyanyian kuno, tapi tidak ramah, menusuk pikiran.

Dan di dalam gubuk itu, duduk seorang kakek renta. Tubuhnya kecil, membungkuk, kulitnya seperti kertas tua, matanya gelap, namun menatap Supardi dengan ketajaman yang aneh, seolah bisa menembus tulang, daging, dan bahkan pikirannya.
Supardi menahan nafas, perasaan campur aduk antara takut, penasaran, dan… ingin percaya. Jantungnya berdetak keras, tapi tangannya tak bisa digerakkan.

“Selamat datang, Supardi,” suara kakek itu serak, lembut, namun ada sesuatu yang mengerikan di balik nada itu. 

“Aku sudah menunggumu lama.” lanjut kakek itu.

“Si.. siapa… Anda?” tanya Supardi dengan suara bergetar dan berusaha menelan ludah.

Kakek itu tersenyum tipis. Senyumnya bukan ramah. Senyum itu… menusuk, menantang, menimbang-nimbang.

“Aku penjaga sesuatu yang tak bisa dimiliki sembarang orang. Dan kamu… kamu dipanggil karena…” Kakek menunduk, memeriksa cincin yang tergenggam di meja kayu lapuk. 

“Karena cincin itu memilihmu.” katanya sambil memperlihatkan cincin yang ada dalam genggamannya.

Supardi menatap cincin itu, dia tidak berani menyentuh. Cincin itu… berkilau aneh, cahayanya redup seperti dibakar dari dalam, tapi dingin sampai menusuk ujung jari. Ada simbol-simbol tua yang bergerak samar, seperti mereka hidup sendiri.

“Apa… maksud Anda…?” Supardi suaranya nyaris berbisik.

“Kalau cincin itu bisa menyatu dengan tubuhmu… berarti kamu bukan lagi Supardi yang kemarin. Kamu adalah tuan, pewaris… dari sesuatu yang telah lama terlupakan. Tapi hati-hati… setiap kekuatan memiliki harga.” jawab kakek itu dengan kepala mengangguk perlahan.

Supardi mundur sedikit, menabrak dinding kayu. Bau tanah basah semakin pekat, bercampur aroma asap hangus. Rasa dingin merayap dari jari-jari kaki sampai ke tengkuknya. Matanya mulai menangkap bayangan yang seharusnya tidak ada, sesosok menatap dari sudut gubuk, seolah menunggu, namun bergerak terlalu cepat untuk bisa dikenali.

“Kenapa… aku merasa ini salah?” gumam Supardi dalam hati. 

“Kenapa aku merasa… bukan hanya dipilih… tapi diuji?” kata Supardi kemudian.

“Karena dunia ini bukan untuk manusia biasa. Dan kamu… kamu akan melihat lebih dari yang seharusnya manusia lihat. Tubuhmu akan lelah, matamu akan terbuka, dan hatimu… akan diuji.” jawab Kakek itu sambil tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.

Supardi menelan ludah. Tubuhnya dingin, tetapi ada getaran aneh di dadanya, bukan ketakutan biasa. Ini rasa panggilan, sesuatu yang menuntutnya untuk bangkit, menerima, tapi juga takut mati.

Gubuk tua itu semakin gelap. Bayangan bergerak, cahaya lilin di sudut bergetar sendiri. Supardi tahu, setiap nafasnya sekarang bukan lagi miliknya. Dunia ini… menunggu langkahnya selanjutnya.
Dan di tengah kabut, kakek itu berkata satu kalimat yang menusuk pikiran Supardi sampai ke tulang.

“Jika kamu mampu, cincin itu akan menjadi bagian dari dirimu. Jika tidak… kamu akan tersesat selamanya.”

Supardi menunduk, menatap cincin itu, dab merasakan sesuatu yang asing, kaku, panas, tapi memanggil.
Dia tahu… hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

©Novellaris2026 

Komentar