Bab 1 Malam Banjir di Pancoran Mas
Hujan sudah turun sejak sore dengan mendung tebal yang menyelimuti. Awalnya cuma rintik, lalu berubah jadi deras sekali. Dan sekarang, sudah tengah malam, air yang pekat di malam gelap sudah meluap ke dalam gang sempit dan menambah suramnya Pancoran Mas. Suara gemericik Ciliwung dari kejauhan bercampur dengan dentuman hujan di atap seng rumah-rumah kontrakan, menciptakan simfoni kesedihan yang terlalu akrab di telinga Chaerunawati Sholihah.
Ia menengadah pasrah, napasnya terdengar berat. Dari lubang-lubang kecil di atap rumahnya, air menetes deras tak terbendung, jatuh menimpa ember-ember yang sudah hampir penuh di lantai semen yang retak.
"Astaghfirullah..." gumamnya lirih, buru-buru ia menggeser kasur tipis ke sudut ruangan lembab yang lebih tinggi.
"Wati... airnya udah masuk?" suara Bu Sari terdengar parau dari dipan bambu di ruang depan yang sempit, disertai batuk-batuk pendek yang menyayat telinga.
"Iya, Bu. Nggak usah bangun. Biar aku sama Fitri yang beresin." Wati mengelap keringatnya yang keluar dalam udara dingin dengan ujung kaosnya. Celana dasternya pun sudah basah hingga ke lutut.
Fitri, adik perempuannya yang bajunya juga basah kuyup, hanya mondar-mandir dengan wajah yang panik.
"Kak, embernya udah penuh nih. Mau ditaruh di mana lagi?"
"Taruh aja di luar, Fit, di teras. Ganti sama baskom."
"Baskom juga udah kepake semua Kak..."
Wati menggigit bibirnya keras. Matanya yang lelah melirik ke arah ponsel yang tak kunjung berdering.
"Rahman masih belum pulang juga. Padahal keadaan udah darurat begini."
Fitri menghela napasnya panjang.
"Katanya sih lembur di kafe, Kak. Tapi kok nggak ada kabar sama sekali."
Dari dipan, Bu Sari kembali terdengar batuk. Kali ini lebih keras suaranya, sampai wajahnya memerah pucat.
"Hhhh... Wati... inhaler Ibu... mana inhaler?"
Wati terbelalak seketika.
"Ya Allah, inhaler Ibu habis kan kemarin." Ia buru-buru menghampiri, memijati punggung ibunya pelan.
"Tarik napas pelan, Bu. Jangan dipaksain."
Bu Sari cuma menggeleng, suaranya terengah-engah.
"Susah... napas Ibu... se...sesak... Rahman... di mana?"
"Bentar, Bu, aku telepon lagi." Wati bergegas mengambil ponselnya, lalu menghubungi Rahman cepat untuk kesekian kalinya. Tapi tetap saja tak diangkat.
Fitri pun ikutan panik, "Kak, gimana ini? Apotek udah tutup semua, kan? Kalau Ibu tambah parah..."
Suasana makin mencekam ketika Fitri belum selesai bicara, lampu di seluruh ruangan sempit itu mendadak berkedip-kedip, lalu... mati. Gelap gulita. Hanya suara hujan deras dan gemericik air yang masuk ke rumah. Fitri menjerit kecil.
"Listriknya abis! Token habis!"
Wati spontan meraba ke dinding di sebelahnya, ia mencari senter kecil yang ia taruh sebelumnya. Setelah menyalakannya, cahaya kuning redup menerangi wajah pucat ibunya yang semakin sesak.
Sementara di luar, suara tetangga terdengar mulai gaduh.
"Ciliwung udah naik! Ciliwung naik! Cepat angkat barang-barang kalian!" Terdengar juga suara anak-anak yang histeris menangis keras.
Fitri menutup telinganya dengan kedua tangannya.
"Kak... aku takut... di mana sih Bang Rahman?"
Wati menghela napasnya lagi, meski dadanya pun ikut sesak.
"Kamu jagain Ibu. Aku coba keluar dulu, lihat seberapa tinggi air di jalan depan."
Ia kemudian melangkah ke depan dengan hati-hati. Begitu membuka pintu kayu yang tipis, hawa dingin bercampur bau amis lumpur langsung menghantam seluruh tubuh dan rongga hidungnya. Air sudah setinggi mata kaki, mengalir deras melewati gang sempit perkampungan padat itu. Senter kecilnya yang redup menangkap bayangan sandal mengapung, ember plastik hanyut terbawa arus, dan barang-barang lain yang timbul tenggelam dengan cepat tak jelas bentuknya.
"Ya Allah..." gumam Wati, hatinya mendadak semakin ciut.
Namun tiba-tiba saja dari rumah tetangga sebelah, terdengar suara radio transistor yang menggema keras menerobos derasnya hujan.
"Tarif dasar listrik resmi naik! Kenaikan ini akibat kebijakan konsorsium energi internasional, Helios Energy, yang kini menguasai jaringan distribusi PLN di Asia!"
Wati tertegun sejenak mendengarkan suara penyiar itu. Hatinya mencelos. Jadi ini alasan kenapa token listrik makin mahal, kenapa orang-orang seperti dia makin sulit beli penerangan. Helios... nama asing yang tiba-tiba menentukan hidup matinya orang kecil.
Ia memejamkan matanya, tangannya yang basah mengelus dadanya.
"Rahman... di mana kamu saat kita butuh?"
Sementara dari dalam rumah, Bu Sari masih batuk dengan keras. Fitri mencoba mengipasinya dengan buku tulis matematikanya, air matanya berlinang.
"Kak, Ibu tambah parah. Gimana kalau... gimana kalau Ibu nggak kuat, Kak?"
Wati kembali masuk dan menutup pintu rumahnya dengan kuat, lalu menaruh senternya di meja kecil. Ia duduk di samping ibunya dan menggenggam tangan dingin yang mulai berkeriput itu.
"Bu, tahan ya. Aku sudah telepon Rahman, mungkin sebentar lagi dia pulang."
Bu Sari tersenyum tipis, meski bibirnya bergetar menahan sakit.
"Rahman... anak Ibu... kenapa belum pulang juga?"
"Jangan khawatir, Bu. Dia pasti sedang dalam perjalanan." tukas Wati berbohong, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya sendiri.
Hening sesaat menyelinap, hanya suara hujan deras yang bising di telinga, sesekali terdengar selingan suara kodok dari arah sungai yang justru kegirangan. Di luar, suara orang-orang makin riuh, ada yang memanggul lemari plastik, ada yang menjerit mencari anaknya yang entah sembunyi ketakutan di pojokan mana.
Malam itu Wati tidak tidur. Ia duduk bersila di lantai yang tak tergenang air, matanya fokus menjaga ember-ember bocor sambil sesekali mengecek ponsel, masih tak ada kabar dari Rahman juga. Fitri akhirnya tertidur di pojok kelelahan, tubuh kecilnya meringkuk di atas kasur yang setengah basah.
Wati menatap wajah ibunya yang tenang dalam tidur lelahnya, lalu menoleh ke dinding yang berlumut. Retakannya tampak membentuk garis-garis seperti urat manusia.
"Kenapa hidup kita harus kayak gini, Bu? Dimana Rahman saat kita paling butuh?" bisiknya lirih bergetar.
Dari luar jendela, suara arus Ciliwung terdengar makin deras, seakan menjawab pertanyaan itu dengan bisikan suram, hidupmu hanyut bersama lumpur, dan kau sendirian, Wati.
Wati menggenggam tangannya sendiri erat-erat. Malam ini, hatinya penuh ketakutan, marah, dan kecewa pada ketidakhadiran Rahman. Tapi jauh di lubuk hati, ada sesuatu yang masih berdenyut, rasa ingin bertahan, demi ibunya, demi Fitri, meski harus berjuang sendirian.
Air Ciliwung terus naik. Ember-ember tak mampu lagi menampung bocoran dari atap. Bu Sari terengah, Fitri meringkuk, Wati menatap pintu kayu tipis yang bergetar diterpa arus sambil berharap Rahman akan segera pulang.
Tiba-tiba, Bu Sari terbangun, ia merintih, tubuhnya menggigil.
“Watiii... ibu nggak kuat... dada ibu sakit...”
“Bu, jangan ngomong gitu,” potong Wati sambil menahan tangis.
“Tahan ya, sebentar aja. Rahman pasti pulang kok.”
Fitri yang ikut terbangun, lalu jongkok di samping ibunya dan turut menangis.
“Kak... kalau Bang Rahman nggak pulang, kita gimana? Aku takut... aku takut banget...”
Wati menoleh cepat, menatap adik bungsunya dengan mata yang merah.
“Jangan nangis di depan Ibu! Kamu harus kuat, Fit. Kalau kamu nangis, Ibu tambah sesak.”
“Tapi Kak... aku nggak bisa... lihat Ibu kayak gini...” Fitri menutup wajah dengan kedua tangannya, bahunya berguncang.
Bu Sari berusaha tersenyum, walau bibirnya semakin pucat.
“Fitri... jangan nangis. Ibu masih ada. Selama kalian ada di sini, Ibu masih berusaha untuk kuat...”
Kalimat itu membuat Wati makin tak kuasa. Ia menggenggam tangan ibunya erat-erat, lalu melirik pintu kayu yang terus bergetar diterpa air dari luar.
“Ya Allah, hujannya belum reda juga...”
Fitri mendongak, menatap wajah kakaknya di depannya.
“Kak, kalau air naik lagi, kita harus ngungsi kan? Tapi gimana sama Ibu? Ibu nggak bisa jalan jauh...”
“Kalau terpaksa, kita minta bantuan tetangga. Tapi... aku masih nunggu Rahman. Dia harusnya bisa bantu angkat Ibu,” tukas Wati bergetar.
“Bang Rahman nggak bakal datang, Kak...” Fitri berkata lagi pelan, nadanya penuh kecewa.
“Dia lebih peduli kerjaannya sendiri daripada keluarga.”
“Jangan ngomong gitu! Dia saudara kita. Dia juga sayang sama Ibu,” Wati mencoba menegaskan, tapi dalam hatinya sendiri kalimat itu terdengar rapuh.
Lalu ponsel Wati bergetar. Ia buru-buru meraihnya, mengangkatnya tanpa pikir panjang lagi.
“Rahman? Kamu di mana?!”
Suara di seberang terdengar acuh.
“Aku masih di kafe, Kak. Lagi rame. Nggak bisa ninggalin.”
“Rahman! Kamu denger nggak?! Rumah kebanjiran! Ibu sesak napas! Fitri panik! Kamu harus pulang sekarang juga!”
Ada jeda sejenak di sambungan telepon itu. Lalu suara Rahman terdengar lagi dengan berat.
“Kak... kalau aku keluar sekarang, gajiku dipotong. Kita mau makan apa? Sewa kontrakan siapa yang bayar?”
Air mata Wati jatuh tak tertahan. Ia menggertakkan gigi menahan amarahnya.
“Jangan bawa-bawa alasan duit sekarang! Ibu bisa mati kalau kamu nggak pulang!”
“Udah, Kak. Aku janji pulang besok pagi. Sekarang aku beneran nggak bisa.” Klik. Sambungan terputus.
“Ya Allah...” Wati menatap layar ponselnya yang kembali gelap.
Fitri menjerit kecil, “Kak, dia matiin telepon, ya? Dia ninggalin kita beneran?”
Wati menutup wajah dengan kedua tangannya. “Astaghfirullah... Rahman... kenapa kamu begitu...”
Di dipan bambu, Bu Sari berusaha mengangkat tangannya, lalu menyentuh bahu anak sulungnya.
“Wati... jangan marah sama Rahman... dia juga capek... dia juga bingung...”
“Bu...” suara Wati pecah. “Aku capek, Bu. Semua di pundak aku. Aku takut...”
Air terus saja menetes dari atap, seolah tak mau tahu keadaan itu, genangan air semakin tinggi. Lilin kecil di atas meja bergoyang diterpa angin dari celah pintu. Suara orang-orang di luar makin riuh, terdengar ada yang menangis kehilangan barang-barangnya.
Fitri merapat ke Wati, suaranya bergetar. “Kak... kalau Ibu kenapa-kenapa malam ini... aku nggak tahu harus gimana...”
Wati merangkul adiknya dan ibunya sekaligus, ketiganya meringkuk di dipan sempit itu.
“Kita bertahan bareng-bareng. Sampai pagi. Sampai hujan reda.”
Di luar, arus Ciliwung bergemuruh, seakan menelan semua harapan. Tapi di ruang gelap itu, di antara air yang naik dan tubuh ibu yang sesak, Wati tetap menggenggam tangannya sendiri erat-erat, berbisik dalam hati, aku nggak boleh menyerah, meski semua orang ninggalin aku.
Malam itu, di kontrakan sempit Pancoran Mas, hidup Wati terasa di ujung tanduk, antara hanyut bersama banjir, atau bertahan dengan sisa tenaga yang hampir habis, tanpa kehadiran satu-satunya saudara lelaki yang seharusnya bisa membantunya.
Di tengah keputusasaan dan kekecewaan pada Rahman, tanpa ia sadari, sebuah benih kekuatan mulai tertanam. Benih yang kelak akan tumbuh menjadi sesuatu yang tak terduga, kebangkitan perempuan sungai Ciliwung yang belajar bertahan untuk tetap hidup.
Komentar
Posting Komentar
Ulasan bab