Bab 2 Jerat Utang yang Mencekik
Pagi itu, matahari baru menembus awan yang masih kelabu. Sisa banjir semalam masih menggenang di beberapa titik dalam gang Pancoran Mas. Bau amis lumpur bercampur sampah busuk tajam menusuk hidung. Kasur-kasur basah dijemur seadanya, tikar digantung di pagar-pagar, pakaian basah menumpuk di ember-ember perkampungan padat penduduk itu.
Warga ramai-ramai bergotong royong, bahu membahu. Ada yang menyapu lumpur, ada yang mengangkat perabot ke luar rumah, ada yang bolak-balik mengambil air bersih ke sumur umum karena aliran air kran yang ikut mati. Suara ibu-ibu riuh saling panggil, anak-anak kecil masih menangis mencari mainannya yang hanyut.
Wati keluar membawa sapu lidi di tangan kanannya, serok plastik di tangan kirinya, kemudian menyapu sisa lumpur dari ruangan tamu yang lebih mirip garasi sederhana.
Fitri menjemur seragam sekolahnya yang penuh dengan bercak cokelat di sana-sini. Sedangkan bu Sari tampak duduk lemah di kursi plastik depan pintu, ia batuk sesekali, mengipasi dirinya dengan kain lusuh saat sinar mentari yang tak terhalang mendung mulai menyorot wajah dan sebagian badannya.
Di tengah hiruk pikuk itu, Rahman muncul tergopoh di ujung gang. Rambutnya berantakan, meski masih memakai seragam kafe, wajahnya terlihat kusut tanda kurang tidur. Ia terhenti melihat kontrakan mereka yang berantakan bagai kapal pecah, lantai semen masih becek berlumuran lumpur amis, kasur basah tergantung di sepanjang gang.
“Kak… Bu…” suaranya keluar serak sambil melangkah cepat masuk.
Fitri langsung menoleh ke arahnya, wajahnya merah menahan marah.
“Bang! Baru nongol sekarang? Malam tadi kita panik setengah mati tau. Ibu sesak, Kak Wati bahkan nggak tidur sama sekali! Kamu kemana aja?”
Rahman cuma terdiam menunduk, ia menyadari apa yang diperbuatnya semalaman.
“Aku… maaf, Fit. Aku beneran nggak bisa pulang. Kafe lagi rame, kalau aku ninggalin...”
Wati dengan tangkas memotongnya, suaranya dingin.
“Kamu pikir kerjaan lebih penting dari keluarga? Rahman, Ibu hampir nggak bisa napas.”
Rahman refleks melirik ibunya yang pucat. Ia lantas buru-buru jongkok, menggenggam tangan Bu Sari yang sedikit mulai berkeringat.
“Bu… maafin aku. Aku janji nggak bakal tinggalin lagi. Aku salah…”
Bu Sari justru tersenyum walaupun lemah, suaranya terucap lirih.
“Ibu ngerti, Man… tapi lihat sekelilingmu. Rumah kita hancur, adikmu nangis semalaman, dan kakakmu berusaha kuat untuk kita.”
Fitri mendengus, ia menyibak rambut basahnya yang turun beberapa helai dari wajahnya.
“Janji… janji terus. Tapi tiap kali kejadian yang paling susah, Bang Rahman nggak pernah ada.”
Rahman terdiam lagi, wajahnya kini menegang. Wati hanya menghela napas panjang, ia meneruskan menyapu lumpur tanpa berkata apa-apa lagi.
Suasana gotong royong di luar makin ramai. Ada tetangga yang bawa gerobak, ada juga yang teriak-teriak minta tolong angkat lemari kayu yang besar.
Tiba-tiba...
Dug-dug-dug!!!
Pintu kontrakan mereka digedor keras, meski sudah terbuka lebar.
“Woy! Keluarga Hasan! Utang lama belum lunas!” pekik suara berat seorang lelaki menggema, bikin sebagian warga langsung menoleh.
Wati kaget, ia buru-buru berjalan menuju ke pintu. Begitu sampai, dua pria kekar berdiri dengan jaket hitamnya. Satunya bawa map tebal, satunya lagi sambil memainkan rokok di bibir tebalnya yang hitam legam.
“Bapak kalian dulu ngutang sepuluh juta. Sekarang sama bunganya jadi lima belas juta! Bayar sekarang juga!” bentak si pemegang map.
Wati terbelalak, matanya yang membola terbuka lebar.
“Apa? Dari mana kami bisa dapat uang segitu, Pak? Bapak kami sudah meninggal!”
Si perokok malah nyengir dengan sinis.
“Kalau nggak bisa bayar, gampang. Jual aja aset kalian.” Pandangannya langsung melirik tajam tertuju ke Fitri.
“Atau… jual aja adikmu. Cantik begini, bisa laku mahal.”
Fitri sontak menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, tubuhnya langsung gemetar.
“Bang… Kak… jangan biarin mereka…” isaknya pecah tak tertahan.
Rahman meledak marah, ia maju setapak ke depan.
“Kurang ajar! Itu adik gue! Jangan macem-macem lo!”
Si lelaki pembawa map bereaksi menepuk-nepuk pintu dengan keras.
“Kalau nggak suka, bayar utang kalian! Jangan pura-pura miskin terus. Minggu depan kami balik lagi. Kalau nggak ada uang, jangan salahin kami!”
Suara mereka menggelegar, membuat warga seketika berhenti bekerja dan menonton terpana. Kasak-kusuk mulai terdengar.
“Kasihan ya, tapi emang bener tuh… cantik, tapi hidupnya kayak sampah.”
“Pantes kontrakan mereka sering ribut. Utangnya numpuk.”
“Beban kampung aja.”
Wati berdiri kaku di depan pintu, tubuhnya gemetar tapi matanya berusaha tegas.
“Kami nggak akan lari. Tapi jangan hina keluarga saya di depan semua orang. Pergi sekarang!”
Kedua debt collector itu tertawa sinis, lalu melangkah pergi sambil meludah ke tanah basah.
Rahman menendang ember hingga airnya tumpah dan kembali membuat lantai menggenang.
“Bangke! Selalu begini! Aku muak, Kak!”
Fitri terisak, ia gemetar memeluk Bu Sari.
“Kenapa orang jahat semua sama kita, Bu… kenapa kita nggak bisa hidup tenang…”
Bu Sari mengusap kepala anak bungsunya dengan tangannya yang lemah.
“Sabar ya, Nak… hidup emang begini. Jangan pernah benci dunia, ya.”
Wati terduduk di ambang pintu, bajunya kembali basah oleh lumpur. Ia menatap gang yang masih penuh dengan sampah banjir, sandal-sandal hanyut, kasur basah dijemur. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan lagi.
“Ya Allah… kenapa hidup harus sekeras ini? Listrik mahal, utang mengejar, tetangga menghina. Sampai kapan aku harus kuat begini?”
Sungai Ciliwung yang membisu seolah arogan masih keruh mengalir pelan di belakang kampung, seakan ikut menertawakan penderitaan mereka.
Wati masih terduduk di ambang pintu, air matanya masih menetes, lumpur menempel di tangannya hingga mengering. Rahman mondar-mandir seperti singa yang lagi terkurung, wajahnya merah penuh emosi. Fitri masih memeluk Bu Sari erat-erat, tubuhnya gemetaran belum hilang.
Suara-suara tetangga belum reda. Mereka sengaja memperlambat gerakan gotong royong hanya untuk menonton drama keluarga mendiang Hasan.
“Kasihan sih, tapi bener juga… utang kok dibiarkan numpuk sampai anaknya dipermalukan gitu.”
“Iya, orang-orang kayak gitu bikin kampung kita jelek aja. Nggak bisa bayar, tapi masih juga tinggal di sini.”
“Padahal Wati cantik, ya… tapi percuma juga, nasibnya udah ikutan busuk.”
Bisikan itu menusuk telinga Wati dengan jelasnya. Dadanya perih tersayat kata-kata laksana pisau tajam, wajahnya panas menahan malu. Ia menunduk terpaksa, menyembunyikan wajahnya yang sebenarnya cantik di balik rambutnya yang kusut dan basah dengan lumpur.
Rahman mendengarkan dengan jelas juga, ia mengepalkan tinjunya ke dinding di sebelahnya.
“Anji*g semua! Mulut orang kampung! Dasar kalian nggak tau diri!” teriaknya tanpa ada yang menggubrisnya.
Tetangga yang mendengar itu hanya terkekeh, beberapa berpura-pura sibuk, tapi jelas menikmati tontonan drama gratis itu.
“Man, uuudah…” Wati mencoba menahan, meski suaranya parau.
“Kamu cuma bikin keadaan makin parah aja.”
Rahman menolehnya cepat.
“Parah? Emang belum cukup parah? Kita udah dipermalukan di depan kampung, Kak! Apa aku harus diem aja?”
Fitri menatap lekat mereka berdua, matanya terlihat sembab.
“Berantem terus… kalian selalu berantem… aku capek…” suara kecilnya mencuat, tapi tajam.
Ia melepaskan pelukannya pada Bu Sari, lalu berlari keluar rumah, menyusuri gang penuh lumpur itu.
“Fitri..!” Wati berteriak, mencoba mengejarnya, tapi tubuhnya terlalu lelah.
“Fitriiii!”
Rahman berdiri terpaku, rahangnya mengeras seketika.
“Biarin. Dia cuma manja. Dari dulu kerjaannya dia cuma nangis.”
Wati berbalik, lantas menatap adiknya dengan mata yang penuh amarah.
“Jangan ngomong gitu, Man! Fitri masih anak-anak! Remaja. Kamu itu kakaknya, seharusnya jagain, bukannya malah tambah nyakitin!”
Rahman membalas tatapan itu dengan wajahnya yang penuh perlawanan.
“Terus aku harus gimana, Kak? Mau jadi pahlawan? Mau bayar utang itu gimana? Kerjaan aku aja gajinya pas-pasan. Kamu juga cuma kerja serabutan. Kita mau makan aja susah! Aku nggak kuat lagi!”
Wati terdiam. Kata-kata Rahman menohok, tapi ia tak bisa menyangkalnya. Udara di sekitar mereka makin berat, bercampur dengan bau amis lumpur dan busuknya sampah yang masih mengapung di selokan kecil yang menuju ke Ciliwung.
Bu Sari berdehem pelan, suara seraknya mematahkan ketegangan mereka.
“Cukup. Jangan ribut di depan Ibu. Kita ini keluarga… jangan saling menyalahkan. Dunia udah cukup kejam, jangan tambah kekejaman sama darah sendiri…”
Mendadak tangisan bayi dari rumah sebelah terdengar kencang, teriakan orang mencari perabot yang hanyut masih sesekali terdengar, suara bambu riuh dipukul-pukul untuk mengusir tikus banjir, semua bercampur jadi satu. Kekacauan pasca banjir itu nyata, dan di tengah kekacauan itu, keluarga Wati terasa yang paling ringkih.
-oOo-
Sore harinya menjelang, lumpur sudah mulai kering di beberapa tempat, tapi bau busuk tak kunjung hilang. Wati duduk di depan rumahnya, lututnya ditekuk, wajahnya kosong menatap ember penuh pakaian yang belum sempat dicuci.
Fitri akhirnya kembali ke rumah, bajunya kotor penuh lumpur, matanya bengkak karena menangis. Ia duduk di samping Wati tanpa bicara apa-apa.
Sementara Rahman masih di dalam, ia sibuk mengelap motor bututnya yang juga terendam semalaman. Sesekali ia mendengus kesal, membanting lap, lalu masuk lagi ke kamarnya yang kumuh.
Tetangga yang lewat masih berbisik.
“Liat tuh, kontrakan keluarga Hasan. Hancur semua. Utang, banjir, anaknya kerja nggak jelas.”
“Ada-ada aja… padahal kalau Wati mau, gampang cari laki-laki tajir. Kenapa malah pilih menderita?”
Wati menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, air matanya kembali jatuh. Fitri menggenggam tangan kakaknya pelan.
“Kak… aku nggak tahan kalau mereka terus ngomongin kita…”
Wati kemudian memutar tubuhnya memeluk Fitri, meski badannya sendiri gemetar.
“Dengerin aku. Biarlah orang ngomong apa. Kita cuma punya satu sama lain. Selama kita bareng, nggak ada yang bisa ngejatuhin kita.”
Suara Bu Sari terdengar dari dalam, memanggil mereka pelan.
“Wati… Fitri… Rahman… masuklah. Jangan pada dingin-dingin di luar. Kita kumpul aja di dalam. Nggak usah peduli omongan orang lain.”
Wati gegas berdiri, mengusap air matanya, lalu menggandeng Fitri masuk. Sekilas ia menoleh ke arah sungai di kejauhan. Airnya masih keruh, penuh dengan sampah, mengalir tanpa peduli siapa yang terseret ataupun tersisa.
Di dalam rumah yang masih becek dan berantakan, mereka bertiga kembali duduk di sekeliling Bu Sari. Tidak ada kata-kata lagi. Hanya keheningan yang penuh luka, dan bayangan ancaman utang yang menanti datang minggu depan.
Di dada Wati, sebuah perasaan kian menekan, dunia ini tidak adil. Dan kalau ia tidak menemukan cara untuk bangkit, keluarganya akan tenggelam lebih cepat daripada banjir Ciliwung yang melanda semalam.
Komentar
Posting Komentar
Ulasan bab