Bab 2 Jerat Utang yang Mencekik
Pagi itu, matahari baru menembus awan yang masih kelabu. Sisa banjir semalam masih menggenang di beberapa titik dalam gang Pancoran Mas. Bau amis lumpur bercampur sampah busuk tajam menusuk hidung. Kasur-kasur basah dijemur seadanya, tikar digantung di pagar-pagar, pakaian basah menumpuk di ember-ember perkampungan padat penduduk itu. Warga ramai-ramai bergotong royong, bahu membahu. Ada yang menyapu lumpur, ada yang mengangkat perabot ke luar rumah, ada yang bolak-balik mengambil air bersih ke sumur umum karena aliran air kran yang ikut mati. Suara ibu-ibu riuh saling panggil, anak-anak kecil masih menangis mencari mainannya yang hanyut. Wati keluar membawa sapu lidi di tangan kanannya, serok plastik di tangan kirinya, kemudian menyapu sisa lumpur dari ruangan tamu yang lebih mirip garasi sederhana. Fitri menjemur seragam sekolahnya yang penuh dengan bercak cokelat di sana-sini. Sedangkan bu Sari tampak duduk lemah di kursi plastik depan pintu, ia batuk sesekali, mengipasi ...