Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Bab 2 Jerat Utang yang Mencekik

Pagi itu, matahari baru menembus awan yang masih kelabu. Sisa banjir semalam masih menggenang di beberapa titik dalam gang Pancoran Mas. Bau amis lumpur bercampur sampah busuk tajam menusuk hidung. Kasur-kasur basah dijemur seadanya, tikar digantung di pagar-pagar, pakaian basah menumpuk di ember-ember perkampungan padat penduduk itu. Warga ramai-ramai bergotong royong, bahu membahu. Ada yang menyapu lumpur, ada yang mengangkat perabot ke luar rumah, ada yang bolak-balik mengambil air bersih ke sumur umum karena aliran air kran yang ikut mati. Suara ibu-ibu riuh saling panggil, anak-anak kecil masih menangis mencari mainannya yang hanyut. Wati keluar membawa sapu lidi di tangan kanannya, serok plastik di tangan kirinya, kemudian menyapu sisa lumpur dari ruangan tamu yang lebih mirip garasi sederhana.  Fitri menjemur seragam sekolahnya yang penuh dengan bercak cokelat di sana-sini. Sedangkan bu Sari tampak duduk lemah di kursi plastik depan pintu, ia batuk sesekali, mengipasi ...

Bab 1 Malam Banjir di Pancoran Mas

Hujan sudah turun sejak sore dengan mendung tebal yang menyelimuti. Awalnya cuma rintik, lalu berubah jadi deras sekali. Dan sekarang, sudah tengah malam, air yang pekat di malam gelap sudah meluap ke dalam gang sempit dan menambah suramnya Pancoran Mas. Suara gemericik Ciliwung dari kejauhan bercampur dengan dentuman hujan di atap seng rumah-rumah kontrakan, menciptakan simfoni kesedihan yang terlalu akrab di telinga C haerunawati Sholihah.  Ia menengadah pasrah, napasnya terdengar berat. Dari lubang-lubang kecil di atap rumahnya, air menetes deras tak terbendung, jatuh menimpa ember-ember yang sudah hampir penuh di lantai semen yang retak. "Astaghfirullah..." gumamnya lirih, buru-buru ia menggeser kasur tipis ke sudut ruangan lembab yang lebih tinggi. "Wati... airnya udah masuk?" suara Bu Sari terdengar parau dari dipan bambu di ruang depan yang sempit, disertai batuk-batuk pendek yang menyayat telinga. "Iya, Bu. Nggak usah bangun. Biar aku sama Fitri yang b...